Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 15, '11 3:12 PM
for everyone
Pengalaman seseorang di suatu titik kehidupanya akan berpengaruh terhadap masa depannya. Well, jadi tulisan inih terinspirasi dari sebuah tayangan berita yang menceritakan ada seorang siswa SMA yang trauma dan enggan datang ke sekolah karena ditampar oleh-jelasnya gurunya(ya oleh gurunyah, masa sama tukang duren).  
    Nah mari kita tempatkan diri kita sebagai seorang siswa SMA agar dapat lebih meresapi tulisan inih. Keengganan seorang siswa tersebut datang ke sekolah tentunya karena ketakutan yang diakibatkan oleh trauma ditampar oleh guru tadi. Ketakutan atau trauma inih juga bisa terjadi akibat ancaman yang datang dari senior yang berbadan segede jin tomang yang marah karena gebetannya sekarang jadian sama kitah. Sayangnyah, Hal inih umum dilakukan oleh senior. mbok ya senior kalo emang gak laku jangan melampiaskan amarahnyah dengan menjadikan kita sebagai subtitusi samsak, ya gak sih? Knapah gak cari ajah objek berat misalnyah, truk semen buat dipukulin (-___-).
    Trauma untuk datang ke sekolah pun dapat terjadi hanya karena uang 1000 perak. Anggap kitah punya jajan 5000 perak. (well, ini jajan saya waktu sma dulu), pas berangkat ke sekolah diiringi suasana pagi yang damai dan burung berkicau yang eek di atas kepala botak mengkilap pak RT, eh tiba2 di deket belokan sekolah, ada tukang palak, di kasta preman, berjenis tukang ngamen doyan ngelem yang butuh duit. Walhasil di belokan yang mana hanya butuh sekitar 23 langkah ke pager sekolah, kitah pun harus melayani proses –jelasnyah pemalakan. Meski hanya seribu rupiah, yang hanya 20 persen dari jajan kitah. Tapi rasa takut yang diberikan hari ituh oleh para tukang palak tentunyah meninggalkan rasa trauma tersendiri. Kalikan ituh menjadi 365 hari, maka sang siswa bakalan mengalami penurunan kualitas nyali secara drastis.
    Dari dua hal tersebut saja sudah menjadi gambaran ancaman yang dapat menyebabkan trauma dan implikasinyah sang siswa enggan datang ke sekolah. Masa sma adalah masa dimana jalan pikir seseorang belum dapat meramukan yang namanya tanggung jawab dan realitas. Tanggung jawab seorang siswa untuk datang ke sekolah dan belajar, dan realitas bahwa banyak ancaman menunggu di sekolah. Masa-masa SMA adalah momen dimanah manusia tidak memiliki kemampuan berpikir panjang jauh ke depan untuk menmformulasikan efek yang akan diah terima dari hal yang ia lakukan saat ini. Dan masa-masa tersebut juga adalah saat dimana manusia tidak dapat menerima realitas dengan penuh ketenangan dan menjalaninya dengan tenang juga.
    Trauma di masa SMA tersebut dapat berimplikasi pada malasnya seorang siswa untuk datang ke sekolah, malas bergaul dengan teman, akhirnya hanya punya teman sedikit, lalu membentuk seorang manusia menjadi introvert, pendiam, tak bisa bergaul, takut akan sosial, klimaksnya, tak bisa menggali potensi yang ada pada dirinya untuk saat itu, dan hingga akhir hayat. Padahal bisa saja dia itu calon presiden, atau jago matematika yang dapat merumuskan berapa kekuatan yang dibutuhkan sebuah roket agar mampu meluncur ke galaksi lain, atau ternyata ia jago basket yang memiliki bakat layaknya Michael Jordan, atau ternyata ia adalah ahli dalam persenjataan dan calon panglima perang seperti sadam Hussein? Kita tidak tau. Dan tak akan penah tau jika akhirnya trauma tersebut menutupi semuah potensi kitah menuju masa depan.
    Di saat seperti inilah panduan bagi psikologis seorang siswa sangat diperlukan. Sekolah tentunyah sebagai lembaga pendidikan yang bertanggungjawab secara formal untuk mendidik anak manusiah-jelasnya-bukan anak mbe, selain mendidik anak manusiah tersebut secara akademis juga wajib mendidiknyah secara psikologis. Divisi Bimbingan Konselling atau Guru BP memang umumnyah ditempatkan sebagai sarana bagi siswa untuk menceritakan keluh kesahnya selama sekolah. Tapi kita lihat sendiri, itu seolah tempat menaruh guru baru yang tidak memiliki kemampuan akademis sebagus guru lainnya. Bagaimana mereka mampu mengerti keadaan siswanya, jika kondisi mereka sendiri masih belum dapat mereka pahami di sekolah. Siswa pun sering tidak dapat menyerap dengan benar penjelasan dari pihak sekolah mengenai fungsi divisi guru BP/BK inih. Disinilah menurut sayah tantangan bgi sekolah untuk dapat menyampaikan dengan benar dan memastikan bahwa siswa mendapatkan fasilitas BK ini yang tentunya-dan harusnya akan bemanfaat bagi mereka.
    Dan juga selain sekolah, keluarga juga menjadi faktor penting dalam pengaplikasian teori-anti trauma inih. Keluarga sebagai lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga kasih sayang, lembaga pangan, lembaga kesejahteraan yang paling dekat bagi-seorang siswa SMA, memiliki tanggung jawab yang cukup besar porsinyah dalam pendidikan psikologis seorang siswa. Anak yang dibesarkan oleh gerombolan penjahat tukang mutilasi korban perampolan, umumnya ya, jadi penjahat, paling gak, ya jadi tukang jagal, di pasar. Well, gak ada korelasinyah antara keluarga penjahat dengan ceritah inih-so mari tinggalkan keluarga penjahat dengan penjahatnyah-eh?
    Balik ke keluarga sebagai sarana pendidikan psikologis anak, seorang bapak harusnyah pun jangan lupa melatih anaknyah untuk tumbuh sebaga seorang yang bernyali. Berikut adalah poin-poin yang harus diceritakan seorang bapak kepada anaknyah
1.    Naik sepeda motor itu tangan kanan di kanan, dan kiri di kiri. Jangan sebaliknya. Bapak sudah coba. Nih lihat kepala bapak somplak.
2.    Kalo lapar jangan gigit pintu, kenyang enggak, gigi copot iyah.
3.    Manusia itu keluar dari lubang kelamin perempuan, bukan dari telur yang menetas.
4.    Kalo lu gak salah, lu harus berani bertindak benar!
Dalam poin terakhir (dengan tidak berniat menyingkirkan 4 poin lainnyah yang juga cukup-penting) seorang siswa seolah diberikan satu kunci yang hanya butuh 5 detik menceritkannyah namun berguna bagi puluhan tahun ke depannyah. Disini seorang siswa bakal mengetahui dasar dari berbuat benar dan membenarkan yang salah. Ia akan berani untuk melawan kesalahan yang terjadi dalam sistem yang ia hadapi. Dalam hal ini misalnyah tukang palak, atau senior segede truk molen. Ia akan belajar mencari solusi untuk menghindar atau melawan, karena ia memiliki hak untuk belajar yang dpat terganggu karena keberadaan hal-hal yang mengiritasi disinyah tersebut.
    Pada akhirnyah keluarga, dan sekolah memiliki tanggung jawab yang besar dalam menghasilkan seorang anak yang tumbuh menjadi-tukang ngelem-atau insinyur roket.


Add a Comment